Jangan pernah abaikan kekuatan emak-emak, dalam urusan negara sekalipun. Saat emak-emak sudah ngomel karena harga-harga naik, disitulah awal turunnya pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Jadi, stabalitas ekonomi sebuah negara tampak dari stabilitas emosi emak-emak. Jika emak-emak ngomel, berarti ekonomi melemah. Jika emak-emak tersenyum, berarti ekonomi tumbuh baik. Jika emak-emak demo….berarti ekonomi diambang keruntuhan.
Dari hal kebijakan sederhana saja, misalnya saat biaya listrik rumah tangga naik karena subsidi dicabut. Emak-emak yang biasanya bayar 100 ribu perbulan menjadi 200 ribu per bulan. Efeknya emak-emak ngomel.
Perhatikan pasar saat itu…
Saat pengeluaran listrik menjadi 200 ribu, maka emak-emak mengatur ulang belanjanya. Yang biasanya tiap sebulan sekali beli terigu 1 kg, dikurangi menjadi ½ kg. Yang biasanya beli mie 10 bungkus, kini beli 7 bungkus. Yang tidak berubah hanya beli beras, karena ini wajib. Inipun emak-emak kota. Kalo yang di desa bakal menguranginya dan menggantinya kekurangannya dengan gaplek, jagung, atau lainnya. Ini terpaksa dilakukan karena penghasilan suaminya tetap, sedang biaya rumah tangga naik saat subsidi listik naik.
Akibatnya…
Jumlah telor, mie, terigu, dll yang terjual di pasar turun dari biasanya. Omzet pedagang turun.
Lanjutannya ke hulu adalah : produsen telor, terigu, dll…. Mengurangi produksinya. Produksi berkurang berarti karyawan dikurangi. Makin banyak keluarga tanpa penghasilan.
Kelanjutannya adalah : omzet pedagangan dan produsen turun. Otomatis pajak atas produksi, jual beli, transportasi, dll ikut turun. Lha gimana mau naik pajak jika omzet turun?
Saat pendapatan pajak turun, apa yang mau dipakai untuk membiayai operasional negara dan proyek pembangunannya? Hutang lagi? Nambah cari-cari pajak yang belum dipajeki? Silahkan dicoba. Masih ada yang belum dipajeki : (*red) jatuh cinta, nikah, (maaf, kentut) , dll…
Informasinya dari media : Kekhawatiran Ditjen Pajak memang sangat beralasan karena saat menghadap Presiden Joko Widodo awal pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani melaporkan realisasi penerimaan pajak hingga September 2017 baru sekitar 60% dari target yang sebesar Rp 1.283 triliun.
Perhatikan pendapat ini : “Ciri-Ciri sebuah pemerintahan akan bangkrut adalah semakin besarnya pajak dipungut.” (Ibnu Khaldun)
Tak usah repot-repot sajikan data dan grafik statistik pertumbuhan ekonomi, cukup lihat muka emak-emak sebelum dan pas pulang dari pasar, dari situ tampak negara ini sedang tumbuh atau sedang bangkrut.
Mencabut subsidi energi sambil berharap ekonomi meroket adalah stand up comedy terbaik abad ini. Lucu. Tapi bikin mules.
Kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi itu timbul dari jual beli. Jadi, jangan remehkan peran emak-emak terhadap kokoh tidaknya negera ini.
Mau ekonomi tumbuh? Beri duit emak-emak dan antarlah ke pasar! Dan jangan sekali-kali membuat kebijakan yang membuat emak-emak mengurangi belanjanya.
Selamat belanja Mak! Semoga kalian mampu melakukan rebudgeting ekonomi dapur dan ekonomi negeri ini. Aaamiin